Langsung ke konten utama

LGBT dan Indonesia


Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) merupakan fenomena yang sedang hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat, dengan berbagai macam argument yang terlontarkan oleh mereka. Ada beberapa masyarakat yang pro terhadap LGBT dan ada yang kontra, mereka yang kontra beranggapan bahwa LGBT merupakan suatu kegiatan yang sangat tercela sampai mereka mengambil keputusan dengan mengucilkan keberadaan orang-orang atau kaum LGBT. Manusia itu unik menurut salah satu filsuf dan  pemateri seminar tentang LGBT (Seminar LGBT: Laknat atau Rahmat? 1 Maret 2016 di Teatrikal Dakwah) dan menurut beliau lingkungan juga dapat mempengaruhi pola prilaku dan gaya hidup (life style) seseorang (hal ini juga memiliki pengaruh kepada seseorang untuk menjadi dan melakukan LGBT) adapula yang mengungkapkan bahwa LGBT merupakan penyakit yang harus disembuhkan, namun salah satu kaum LGBT menolaknya (kutip Indonesia lawyers club (ILC), TVONE, LGBT Marak: Apa Sikap Kita ? 16 Februari 2016) lingkungan adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terhadap seseorang untuk dapat melakukan dan menjadi LGBT, pengaruh lingkunganpun dibagi dalam beberapa faktor yaitu
·         Trauma : trauma merupakan salah satu faktor seseorang melakukan dan menjadi LGBT, trauma ini disebabkan karena beberapa alasan yang dialami oleh mereka, apakah faktor pengalaman pernah menjadi korban sexual (kesedihan mendalam)
·         Pola asuh : pola asuh yang tidak maksimal yaitu mereka hanya melakukan pola interaksi dan bermain dengan sesama jenis sehingga interaksi yang dibangun dengan lawan jenis sangat minim sekali, bahkan pola asuh yang disebabkan oleh orang tua mereka sendiri yaitu kelahiran yang tidak diharapkan (secara jenis kelamin) sehingga orang tua melakukan pola asuh seperti orang tua berkeinginan memiliki anak perempuan namun ketika lahir laki-laki, sehingga orang tua sang anak memaksakan takdir dengan mendandani anak laki-laki tersebut layaknya seorang perempuan begitupun  sebaliknya.
·         Coping yang tidak sempurna : pada dasarnya individu melakukan coping  untuk dapat melakukan perubahan atau keluar zona nyamana yang dimiliki tujuannya tak lain adalah untuk melakukan perubahan dalam hidup, kegiatan ini merupakan pengaruh orang LGBT yaitu dengan meniru atau mencoba untuk melakukan hal tersebut, sehingga tak dapat dielakkan bahwa semua kaum LGBT disebabkan karena faktor hormon (penyakit) namun LGBT juga dapat terjadi bagi mereka yang heterosexual.
 Jika demikian apa sikap kita terhadap LGBT ?
            Satu hal yang menjadi tujuan para kaum LGBT mem-publish keberadaan atau identitas mereka di muka umum yaitu legalitas pernikahan sejenis seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Menurut penulis keberadaan mereka harus kita akui namun hal ini bukan berarti penulis satu frame atau satu tujuan dengan para kaum LGBT. Yang dimaksudkan penulis adalah LGBT memang sudah ada di Indonesia dan kita semua sebagai warga negara yang beasaskan pancasila dan undang-undang 1994 harus menghargai kebedaraan mereka, karena mereka memiliki hak yang sama di mata hukum. Namun penulis sangat menolak terhadap legalitas pernikahan sesama jenis karena beberapa alasan:
1.      Larangan agama : semua agama tidak ada yang melegalkan pernikahan sejinis, karena tuhan menciptakan manusia dengan perbedaan (jenis kelamin, golongan) untuk saling melengkapi. Bahkan tuhan melaknat kaum yang LGBT hal ini dapat dibaca di kisah nabi luth dan ini juga ada dalam kitab kaum kristiani.
2.      Tidak sesuai dengan undang-undang pernikahan nomer 1 tahun 1974 disitu dijelaskan bahwa pernikan yaitu ikatan antara laki-laki dan perempuan bukan laki-laki dan laki-laki atau perempuan dengan perempuan
3.      Kurangnya generasi bangsa. Sudah jelas jika kita lihat dari reproduksi manusia. Manusia melahirkan karena aktivitas antara dua pasangan yang memiliki jenis kelamin yang berbeda (laki-laki dan perempuan) sehingga sangat mustahil sekali hubungan sesama jenis dapat melahirkan, dan hal ini sangat berpengaruh terhadap masa depan negara karena menurut funding father kita negara ini sangat bergantung kepada generasi dan menurut penulis generasi yang dimaksudkan oleh beliau adalah dengan melihat kualitas dan kuantitias.
Solusi apa yang akan kita lakukan dan tawarkan  sebagai pekerja sosial:

            Kegitan yang dapat kita lakukan dan tawarkan kepada kaum LGBT atau masyarakat umum adalah dengan menjalankan peran-peran dari seorang pekerja sosial yaitu dengan menjadi pendampingan, yaitu mendampingi mereka kaum LGBT  untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam menyembuhkan pola kehidupannya agar tidak melakukan hal tersebut lagi. Menjadi edukator yaitu dengan memberi pemahaman dan memberi informasi kepada masyarakat umum bahwa kita semua harus menghargai keberadaan mereka karena mereka memiliki hak yang sama di mata hukum atau budaya ketimuran yang kita anut (saling menghargai) dan melakukan peran-peran pekerja sosial yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Lesson Of The Day) PENTINGNYA MEMBANGUN KOMUNIKASI

Kemaren adalah hari ketujuh aku menjalankan salah satu rukun Islam yaitu berpuasa. Bulan puasa sering kita jadikan sebagai momentum silaturahhim antar kerabat (keluarga, teman, kelompok, organisasi dll) melalui buka bersama (bukber). Pada minggu ketujuh aku menghadiri bukber alumni pesantren yang pernah kujadikan tempat menuntut ilmu. Acara tersebut tidak hanya bukber tetapi juga memperingati Haul salah satu pengasuh pesantren. H-2 aku menghubungi salah satu teman sekelas dulu ketika SMA yang kebetulan kita satu kampus. aku menanyakan apakah dia akan hadir atau tidak di acara bukber dan haul, tidak hanya itu aku juga meminta saran padanya terkait kehadiranku, dan tentu dia memberi saran untuk aku hadir dan ikut acaranya. Alasan tak ada teman kulontarkan padanya, memang betul aku bukan orang yang aktif di ikatan alumni, hanya ada beberapa orang yang kukenal dan mungkin bisa dihitung jari   dan tepatnya tak lebih dari lima orang. Untuk saat ini tak ada anggota perempuan yang k...

pemikiran

Jangan pernah kamu takut meskipun terkadang apa yang kamu pikirkan tidak sama dengan apa yang telah disepakati oleh masyarakat karena tuhan memberikan kita sebuah kebasan, NAMUN kamu juga harus ingat ketika kamu mengalami harus inget ketika kamu mengambil keputusan yang menurut kamu itu benar kamu harus menanggung konsekuensi terhadap apa yang kamu putuskan, disini saya tidak bilang ya . . . apa yang kamu putuskan itu salah malah terkadang itu berdampak positif terhadap kita meskipun terkadang kita tak jauh dari yang namanya cacian . . . sebuah rintangan itu biasa karena dengan rintangan itu kita akan memiliki sebuah KESEMANGATAN buat HIDUP menjadi lebih baik . . . SO JANGAN TAKUT UNTUK MELANGKAH SELAGI KAMU PERCAYA APA YANG KAMU LAKUKAN TIDAK MEMBUAT TUHAN MARAH . . pemilik bumi ini bukanlah aturan yang telah kita sepakati tapi pemilik bumi ini adalah TUHAN . . TUHAN yang Tunggal . . .REMEMBER OUR GOS (ALLAH) ALWAYS SAVE US N HELP US

My Story about true Colonial (Hedonis style)

Tas branded, pakaian branded dan semua yang menempel di kita branded. Siapa sih yang tidak mau dan tergiur ?  pasti kita semua akan berteriak “ Yess i wanna it”, it’s impossible if we say “ No .. “  kenapa ? karena sekarang semua itu seakan menjadi kebutuhan primer padahal kita takkan mati karenanya. Jika teman-teman termasuk penggemar gosip infotaiment, temen-temen akan tahu gosip yang sangat popoler dan seru untuk dibahas yaitu kehidupan artis tanah air yang tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup hedonis mulai  dari pamer properti mewah, perhiasan mewah, sampai batu akik. Hal yang terbesit di otakku saat ini. Apakah aku perlu pamer juga ? but   apa yang perlu aku pamerin ? harta, yuupps aku jadi bingung sendiri. Seingetku harta yang ku punya  hanyalah lembaran struk belanjaku ( OMG,  sorry just joke ).             Life style /gaya hidup, yah .. semua individu memiliki gaya hidup sendiri ada yang gay...