Membangun hubungan bukanlah hal
sulit untuk dijalankan, apalagi membangun
hubungan berlandaskan kepercayaan dan kepudulian adalah hal sulit untuk
dijalankan.
Inilah langkah awal kita dimana kita
saling kenal namun jarang berbincang dan yang bisa dilakukan hanyalah tegur
sapa “halo..” “hei...” hanya kata itulah yang selalu kita lontarkan, ini
bukanlah sebuah solusi untuk membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan
dan kepedulian yang kami inginkan, kami diikat dalam hubungan struktural organisasi,
akan tetapi kami
tak ingin hubungan kami menjadi kaku, kami ingin menjadi saudara yang saling
berbagi mengerti dan saling mengingatkan. Langkah awal yang kami lakukan untuk
mencairkan kekakuan itu kami
men-agendakan
jalan-jalan bareng “malam keakraban (MAKRAB). Kami berkumpul, kami menyepakati dan mencari
lokasi yang disepakati yaitu PANTAI. Lelah dan senang kami rasakan, kami harus
berputar mencari pantai dan kami pun nyasar.Semua
kami rasakan itulah perasaan kami sebelum pelaksanaan makrab.
D-Day
kami berkumpul di kampus. Awalnya aku merasakan kekecewaan yang
amat mendalam, tak banyak dari kami yang berpartisipasi namun aku berusaha
meyakinkan diriku “SUKSES” kata
itulah yang aku pertahankan. Kami berangkat sekitar pukul 16:30 pm perjalanan yang
kami tempuh lumayan cukup jauh. Kami berangkat bersama karena tidak semua
diantara teman-teman kami mengetahui lokasinya. Lokasi yang kami pilih terletak
di Pantai Sadranan Gunung Kidul, kami sampai dilokasi sekitar 19.30 pm. Kami
berangkat ke sana dengan menggunakan motor di jalan berbagai macam cara
dilakukan untuk meminimalisir rasa ketakutan kami (mengingat track yang lumayan berliku atau tajam)
ada yang bernyanyi, sholawatan, ngobrol mungkin ada juga yang baca doa habis
ngaji (ini adalah salah satu kenangan yang sulit dilupakan). Sesampai kami
dilokasi, kami langsung disibukkan
dengan membangun tenda, api unggun. Kami di sana membagi tugas mengingat
kondisi perut yang mulai bersenandung kelaparan.
Setelah kami menyelesaikannya kami langsung
membuat lingkaran. Suara ombak begitu merdu namun bukanlah itu yang menjadi
titik fokus kami. Mata kami hanya tertuju pada plastik putih yang berada di
tengah-tengah lingkaran kami, apakah itu ? itu adalah bekal kami (ubi, ayam,
dan bumbu rendang pak rozaq) setelah api unggun menyala, kami langsung beraksi.
Di sela-sela itu kami memulai acara dengan atmosfer yang begitu kaku. Kami
kenal namun kami memulai dengan perkenalan (ini adalah hal aneh yang tak perlu
diulang lagi).
Pukul 20.45 pm perut kami sudah
kenyang. Namun yang menjengkelkanku sesaat
adalah tak ada
kegiatan pada saat itu. Semua teman-teman disibukkan dengan cerita-cerita di
kelompok kecil yang dibuatnya. Beberapa saat kemudian salah satu teman kami mendapat
ilham “woy.. guys ayok kita main
jujur-jujuran yok ?” tanya dia, hampir semua teman-teman menolaknya (mungkin
mereka takut rahasia mereka akan terbongkar hehe) “kalau seandainya kita main
jujur-jujuran tapi jawabnya iya atau tidak ?” beberapa teman-teman tetap ada
yang tidak merespon. Namun kami sadar daripada kami garing dan disibukkan
dengan cerita-cerita sendiri sedangkan tujuan kami adalah membangun keakraban
kami tetap melakukan permainan itu. Pada mulanya hanya beberapa teman yang ikut
namun seiring dengan canda tawa dan pertanyaan konyol yang kami tanyakan,
akhirnya semua teman-teman bergabung untuk bermain. Pada saat itulah hubungan
kami dimulai, ini memang sederhana namun sangat efektif. Di game itu kami
menanyakan hal-hal konyol “ada enggak yang kamu suka di hmj ?” “kamu suka cowok apa cewek ?” “kamu mau
enggak kalau jadian sama itu ?” pertanyaan itulah yang sangat populer di malam
itu. Sekitar pukul 23.00 pm beberapa teman kami tidak terlibat di game tersebut
dengan berbagai macam alasan, mengantuk, mereka yang sudah terlelap di hamparan pasir
pinggir pantai dan ada yang menikmati panorama keindahan dan bunyi ombak laut
dan ada yang sedang saling bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Keesokan paginya pukul 05.30 am
“ayok kita jalan-jalan menelusuri pantai” ajak dia. Ketika kami bertiga hendak
berjalan menelusuri pantai salah satu teman kami bertanya “kalian mau kemana ?
aku ikut” kami berempat berjalan menelusuri pantai. Indah sekali, karang-karang
yang menjadi aksesoris keindahan laut semakin memanjakan mata kami. Setelah
kami merasa lelah kami kembali ke tenda kami, pada saat itu teman-teman sudah
menyapa paginya dengan canda tawa, bahkan ada beberapa teman kami yang juga
memutuskan untuk pergi menjauh dari tenda untuk mencari view yang bagus untuk selfie.
Dan salah satu teman kami yang
memakai kaos lengan panjang dan celana training
lari-lari dengan keadaan basah kuyup, dia menghampiri kami. Dia menarik salah
satu teman kami untuk dia ajak bermain dengannya. “jangan aku..jangan aku”
teriak temanku dan ternyata tidak hanya satu orang yang basah kuyup.Postur tubuh
besar celana pendek selutut menghampiri dan membantu si kaos panjang untuk
menariknya dan dibawa ke pinggiran pantai yang pada saat itu ombaknya lumayan
besar. Tarik-menarik, mencari sasaran selanjutnya dan dibawa ke pinggiran
pantai itulah yang kami lakukan selama
berjam-jam. Kami sangat menikmati kejadian ini, rasanya tak hanya bersahabat
dengan teman-teman namun juga bersahabat dengan alam. Kami sangat menikmati
masa itu, kami tak ingin melupakannya.
Pukul 10.30 am terik matahari
mulai menerkam kulit kami, kami langsung bergegas meninggalkan jejak pinggir
pantai. Kami bergantian mengantri kamar mandi. Lagi-lagi bagi tugas ada dari
kami yang mandi dan ada yang membongkar tenda dan yang beres-beres barang
bawaan kami. Setelah selesai kami langsung bergegas mengambil motor di parkiran
dan menghidupkannya. Sebelumnya kami menyepakati untuk makan siang bersama. Di
tengah perjalanan kami berhenti di warung soto di sana kami makan bareng,
seperti biasanya seenak-enaknya makanan tanpa ada bumbu gosip, tawa dan canda
pasti hambar rasanya disitu kami saling bercanda gurau. Hari sudah mulai siang
pukul 11.55 selesai makan dan kami memutuskan untuk berpisah di warung itu, di
tengah perjalanan rintik-rintik hujan membasahi bajuku, disitu aku befikir alam
bersahabat denganku berarti mereka (teman organisasi) juga bersahabat denganku.
Untuk sahabat, keluarga baruku
terimakasih kalian telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang akan
menjadi sejarah.
Untuk sahabat, keluarga baruku
memang pada awalnya hubungan ini dibangun atas nama keorganisasian namun itu hanyalah pintu gerbang dasar untuk menuju
kekeluargaan
Untuk sahabat, keluarga baruku
semoga untuk selamanya aku dan kamu menjadi kami. (Lila: kegiatan.
24-Maret-2016)
Komentar
Posting Komentar